Kamis, 12 November 2015



BRAIND MAGIC

            Tawa riuh anak-anak di sebuah kerajaan besar, terdengar amat sangat nyaring. Mereka berlari-larian dengan gembiranya. Seorang gadis cilik seusia mereka hanya bisa melihat mereka dibalik tirai jendela yang berwarna merah. Tirai yang bisa menutupi kesedihannya selama ini.
            Nama gadis itu adalah Braind. Sebagai seorang puteri raja yang paling cerdas di antara 5 saudaranya, ia telah diberi amanat oleh orang tuaknya, paduka raja dan ratu untuk memimpin kerajaan ini, meskipun ia masih berumur 12 tahun. Setiap hari, Braind selalu belajar cara menjadi puteri yang baik, cara membuat rencana, dan juga cara memimpin kerajaan . Hidup sebagai seorang puteri selalu diatur sampai membuat Braind kesal.
            Hobi Braind adalah membaca buku. Buku kesukaannya adalah tentang petualangan. Meskipun itu hanya dongeng saja, dia sangat menyukainya. Melawan orang jahat bersama teman-temannya, Braind selalu tersenyum saat membayangkannya. Dan tempat kesukaan Braind adalah loteng menara kerajaan. Di sana dia bisa membaca bukunya dengan tenang, tanpa harus diganggu kakak-kakaknya.
            Karena sudah tidak tahan lagi, Braind mulai menyusun rencana kepergiannya. Pengawal yang selalu menjaga 24 jam itu tak akan tertipu dengan wajah Braind meskipun sudah dipalsukan. Karena itu, Braind berencana mencuri buku dari perpustakaan kerajaan. Buku sulap terhebat yang disukai sahabatnya, Maggie (baca: Mejii).
            Malam itu, sesudah makan malam, Braind mulai menjalankan aksinya.
            “Apa yang ingin Nanda lakukan di larut malam ini?”, Tanya ayahanda Raja bingung. Tampaknya, Raja amat sangat mengetahui kebiasaan anaknya itu. selesai makan malam, Braind akan langsung tertidur karena kecapekan belajar.
            “Untuk belajar di perpustakaan kerajaan, Ayahanda. Ada hal yang tak saya ketahui tentang cara memimpin yang baik dan benar”, jawab Braind sambil tersenyum seramah dan sesopan mungkin. Raja dan Ratu pun tersenyum bangga.
            “Kalau begitu, pergilah. Tapi, jam 10 malam, kamu sudah harus kembali ke kamarmu untuk tidur”, ujar ibunda Ratu. Braind mengangguk dan pergi menuju lantai 2.
            Braind menaiki tangga kerajaan yang setiap pinggirnya dilapisi emas dan perak murni. Sesampainya di perpustakaan, dibukanya pintu perpustakaan yang paling besar. Dicarinya buku tentang trik sulap yang sering dibaca oleh Maggie, pembantu setia kerajaan mereka sekaligus sahabat pertama Braind. Namun, tiba-tiba saja Maggie membencinya tanpa sebab dan sekarang sudah pindah, entah ke mana tak ada yang tahu.
            “Tak ada. Di sini juga tak ada. Di mana sih, bukunya?!”, Tanya Braind yang sudah mulai kesal. Tanpa sadar, disenggolnya sebuah rak paling kecil dan membuat buku-buku berjatuhan. “Aakkh…”, erangku kesakitan. Meskipun ia seorang putri, Braind masih amat sangat ceroboh.
            Rak itu terbuka seperti sebuah pintu. Di dalamnya terdapat tangga menuju bawah tanah, ruang rahasia!!
            “Apa ini?! Tangga ruang bawah rahasia?!”, ujar Braind kaget. Ia pun turun melalui tangga ruang bawah tanah yang menakutkan. Sementara itu, buku-buku yang berserakan di lantai, kembali tersusun rapi di rak seolah ada yang seseorang yang merapikannya. Rak buku itu menutup, membuat jalan menuruni tangga menjadi gelap. Siapapun pasti akan ketakutan karena tangga  itu benar-benar sangat gelap, dan juga tidak ada pegangan. Hanya tembok rapuh yang dingin yang menjadi tuntunan turun.
            Tangga terasa sangat panjang. Entah sudah berapa kali kaki Braind turun, ia tak pernah sampai. Hingga ia menemukan secercah cahaya terang dari api unggun.
            Di ruang bawah tanah…
            “Ah, tangganya sudah habis!! Apakah sekarang aku… sedang ada di ruang bawah tanah rahasia?”, Tanya Braind bergidik ngeri sambil memperhatikan sekelilingnya.
            Braind mulai mendekati cahaya api itu dengan hati-hati. Hatinya sangat khawatir akan bahaya yang tak terduga. Dilihatnya letak cahaya api itu. Ternyata, ada semacam perpustakaan besar di ruangan ini!
            “Waah… banyak sekali!!”, ucap Braind kagum, sekaligus senang. Tanpa sadar, lagi-lagi ia harus kembali terjatuh karena kakinya menyenggol sebuah kardus. Tampaknya isi kardus itu adalah buku-buku kuno..
            Dilihatnya setumpuk buku yang mulanya rapi, menjadi berceceran. Dan terlihat, sebuah buku bersampul kuning lusuh. “Ini dia bukunya!!”, gumam Braind. Diambilnya buku sulap itu dengan gembira. Braind membersihkan buku sulap itu.
            Saat hendak keluar dari ruang bawah tanah (mungkin, sekarang bisa disebut sebagai ruang perpustakaan bawah tanah), tersadarlah Braind. Tak ada tangga yang tadi menuntunnya turun.
            “Aduuh… bagaimana ini?! Nanti aku ketahuan oleh ayahanda dan ibunda!!”, ujarku ketakutan.
            “Tutuplah matamu, gadis kecil!!”, perintah sebuah suara yang asing.
            Meskipun tak tahu maksud perintah itu dan suara siapa itu, Braind tetap menutup matanya. Berharap ia bisa keluar dari ruang bawah tanah yang menyeramkan ini.
            “Sekarang, kau boleh membuka matamu lagi”, perintah suara itu lagi.Braind membuka matanya secara perlahan.
            Hari sudah pagi. Ia berada di ruangan yang asing. Braind menjadi ketakutan.
            “Eh?! Di… di mana ini?!”, Tanya Braind histeris. Tiba-tiba, sebuah kepala mungil muncul dari pintu ruangan. Itu Maggie!!
            “Maggie?!”, Tanya Braind kaget .
            “Iya, aku Maggie!! Ternyata, nona sudah sadar!! Syukurlah!! Kemarin malam, nona pingsan di depan rumahku”, jelas Maggie panjang lebar. Tanpa basa-basi, Braind langsung memeluknya sahabat yang sangat ia sayangi itu. hampir Maggie tak bisa bernapas karena pelukan erat Braind.
            Maggie pun balas memeluknya. Pagi ini, pastinya hari keberuntungan bagi Braind. Ia bisa bertemu dengan Maggie lagi, dan tentunya terbebas dari siksaan di kerajaan.
            Hari ini, Braind memutuskan untuk bebas. Digunakannya nama Sakura!! (ini hasil diskusi 1 jam antara keluarga Maggie dan Braind, lho). Rambut Braind yang panjang, dikepang 1 agar tak terlihat sebagai tuan puteri lagi. Dengan pakaian Maggie yang berwarna pink, ia berubah menjadi seorang gadis desa yang polos.                                                                                                                                                                                                                                   
            Mulai pagi ini, Braind akan menjalani harinya dengan berbeda. Ia akan tertawa bersama anak-anak yang lainnya. Seandainya ini mimpi, Braind tak ingin bangun lagi.
            “Gimana kalau kita ke lapangan?”, ajak Maggie. Braind langsung mengangguk.
            Mereka segera menuju lapangan, namun, tiba-tiba seorang gadis datang berlari ke arah mereka.
            “Maggie!!”, teriaknya lalu menubruk tubuh Maggie yang kurus. Sontak, Maggie langsung menghindar.
            “Apaan sih, Fira?”, Tanya Maggie risih kepada Fira.
            “Gini Maggie, di lapangan, wanita penyihir itu datang lagi!!!”, jawab Fira panic. Tiga gadis cilik itu langsung berlari menuju lapangan.
            “B-bagaimana ini?! kita harus menolong warga desa!! Kalau tidak…”, ucapan Braind langsung terpotong setelah melihat lirikan tajam Maggie.
            “Aku tak tahu!!! Kenapa kau sungguh peduli pada kami semua!! Kami tak peduli denganmu!! Biar kau mati, kami tak akan peduli!! Termasuk juga aku!! Kenapa kau masih memikirkan kami?!”, Tanya Maggie dengan pedasnya. Dari raut wajahnya saja, pasti semua orang tahu, betapa Maggie sangat membenci Braind.
            “Karena kau… adalah sahabat pertamaku. Dan sebagai seorang puteri, aku harus melindungi rakyatku”, jawab Braind. Namun, hatinya terasa sakit. Sakit sekali setelah mendengar ucapan Maggie yang begitu pedasnya.
            Maggie hanya diam tak perduli. Ia segera meninggalkan Braind bersama Fira.
            “Tak kusangka. Selama ini, senyuman rakyat hanyalah bohongan saja. Aku sudah tak sanggup!! Sekarang… apa yang bisa kulakukan?!”, Tanya Braind dalam hati. Ia menangis pelan. Tak ingin ada yang tahu.
            Tapi, di sela-sela tangisnya, Braind merasa samar-samar suara Maggie dan Fira meminta tolong. Meskipun, sahabatnya itu telah melukai hatinya, Braind tetap ingin menolongnya. Ia segera berlari menuju lapangan, menyusul Maggie dan Fira.
            Di lapangan, Maggie dan Fira menghadapi monster yang amat sangat besar. Amat menakutkan. Perbuatan seperti ini, biasanya dilakukan oleh si penyihir jahat di wilayah desa Kerajaan Berlian.
“Uukh…”, rintih Maggie kesakitan saat lehernya dicekik oleh sosok monster yang amat sangat besar. “Bagaimana ini?! jika begini terus, kami bisa mati!!!”, gumam Maggie bingung.
            Ia gerakkan tangan kanannya yang serasa seperti batu itu dengan pelan saat monster itu lengah.
            “Rasakan ini, monster jelek!!!”, teriak Maggie sambil mengayunkan tangannya. “Sageata Red (Panah Merah) Maggie!!!”.
            Monster itu langsung melepaskan Maggie dan Fira. Matanya sobek karena serangan Maggie.
               “Wah, wah, ternyata kau bisa menggunakan sihir juga, ya. Hebat!!”, puji Wanita Sihir itu dengan bahasa Cinanya yang sangat fasih sambil tersenyum sinis. Maggie dan Fira langsung merasa ketakutan.
               “Kalau begitu, kau harus menyaksikan ini. Sageata Neagra (Panah Hitam)!!!”, seru wanita itu. Panah hitam langsung menuju ke arah mereka berdua. Maggie seketika itu menangis ketakutan. Bayangan semua orang yang disayanginya berputar di ingatannya, juga bayangan Braind. 
            Braind yang saat itu menyelamatkan dia dari serigala di hutan dengan tongkat kayunya. Meskipun dia masih berumur 6 tahun, Braind sudah berani menolong sahabatnya itu. mungkin jika Braind tidak datang, ia sudah tewas dahulu.
            “Karena kau… adalah sahabat pertamaku”, ucapan Braind tadi teringat kembali di ingatannya.
            “Sinar Penghalang!!!”, teriak seorang gadis. Suara yang amat sangat ia kenal. Maggie menoleh ke belakang. Gadis manis yang baru saja ia sakiti hatinya, datang ke lapangan untuk menyelamatkannya.
               “Tak akan kubiarkan, kau melukai sahabat-sahabatku!!!!”, seru Braind marah. Braind segera melempar sebatang kayu yang cukup besar.
               “Kyaa!!!”, teriak wanita sihir itu. lemparan itu tepat mengenai kepalanya. Braind segera berlari ke Maggie dan Fira yang terluka cukup parah.
               “Kalian berdua tak apa?”, tanyanya. Maggie tiba-tiba memeluk Braind sambil menangis. 
               “Maafkan aku, nona Braind... Selama ini, saya berbuat buruk pada anda…”, ujar Maggie sambil terisak pelan.
               “Tidak kok. Kamu selalu baik. Aku senang dapat memiliki sahabat sepertimu”, hibur Braind. Ia tersenyum sangat manis.
               “Ya, non. Saya juga sangat senang”, balas Maggie .
               “Ukh.. sialan!! Akan kuhabisi kalian!! Dragon intuneric (Naga Kegelapan)!!!”, teriak penyihir itu. Tiba-tiba, muncullah seekor naga hitam dari dalam tanah.
               “Dragon intuneric?! Mustahil!! Itu sihir terlarang!!”, seru Maggie dan Fira cemas.
               “Jangan takut. Kalian larilah dahulu!!”, perintah Braind.
               “Tapi… Saku… ah, maksudku Nona Braind, bagaimana dengan anda?!”, Tanya Fira ikut cemas.
               “Aku tak apa”, jawab Braind singkat sambil tersenyum tenang. Seolah tak akan terjadi hal buruk padanya “Aku akan berusaha menghalanginya. Sementara kalian, ambillah buku sulap yang kubawa dari ruang bawah tanah tersegel di kerajaan, dan segera bawa warga mengungsi di tempat yang aman”.
               “B-baik!!”, jawab Maggie dan Fira. Mereka segera berlari meninggalkan Braind bersama penyihir hitam itu. setelah yakin mereka berdua telah pergi, Braind pun mulai bersiap untuk menghadapi penyihir jahat itu.
            “Wah, kita bertemu lagi, Sakura-chan. Ataukah, harus kupanggil ‘Si Putri Bungsu Braind’?”, Tanya wanita penyihir itu.
 Eh?! Dari mana dia tahu bahwa aku puteri Braind?!”, Tanya Braind dalam hati. Ia kaget sekali.
            “Seorang puteri tak boleh melarikan diri dari kewajibanmu. Apalagi kamu telah dicalonkan sebagai pemimpin kerajaan. Jangan seperti aku. Jika kamu sepertiku, kamu akan menyesal nantinya”, ujar wanita penyihir itu sambil tersenyum masam. Kata-katanya bijak sekali.
            “Apakah kau dulunya juga seorang puteri?”, Tanya Braind bingung. Wanita itu tiba-tiba langsung murung.
            “Lebih tepatnya calon ratu”, ralat wanita itu.
            “Kenapa kamu melarikan diri?”, Tanya Braind lagi.
            “Karena aku sangat tersiksa oleh beban-beban yang dihadapkan padaku di masa depan nanti. Sama sepertimu sekarang ini”, jawab wanita itu. ia kembali tersenyum masam. Tapi, mata wanita itu, sinar mata itu… Braind pernah melihatnya… pada kakaknya yang hilang 5 tahun yang lalu!!
            “K-kak Lili?”, Tanya Braind tak percaya.
            “Wah, baru nyadar, ya?”, Kak Lili balas bertanya dengan tersenyum simpul.
            “Tapi, kenapa kakak berubah menjadi penyihir jahat?! Kakak kan…”, Braind tak bisa meneruskan kata-kataku.
            “Hati manusia bisa berubah. Hanya karena suatu masalah yang telah kuanggap berat inilah, aku menjadi putus asa”, jawab Kak Lili dengan dinginnya.
            “Tapi, kenapa kakak tak berusaha menahannya?!”, Tanya Braind lagi. Ia memang juga berharap bertemu dengan kakaknya lagi, tapi… bukan dalam posisi ini! Bukan dalam posisi sebagai musuh!! Tapi sebagai saudara yang erat hubungannya seperti dulu!
            “Aku sudah tak bisa. Tak ada yang memperdulikanku. Karena itu, aku menjadi begini”, jawab Kak Lili dengan pandangan mata sedih.
            “K-kalau begitu… aku yang akan mengembalikan kakak seperti semula!!!”, seru Braind sambil menunjuk Kak Lili. Ia ingin kakaknya kembali seperti dulu. Wajah Kak Lili yang selalu bersinar cerah meskipun malam. Senyumnya yang selalu menghangatkan suasana. Ia rindu semua itu!!!
            “Sudahlah. Aku harus menghancurkan dunia kecil ini, karena itu memang sudah menjadi tugasku”, kata Kak Lili lalu menghilang.
            Braind hanya terdiam kaku. Apa yang harus ia lakukan sekarang?
            Kak Lili terbang di angkasa dengan naga hitamnya, meninggalkan Braind yang terdiam kaku. Ucapan adiknya tadi masih terngiang-ngiang di kepalanya. “K-kalau begitu… aku yang akan mengembalikanmu seperti semula!!!”.
            Kak Lili berusaha terus menyadarkan dirinya. Ia harus focus. Tak boleh goyang oleh kata-kata kecil adiknya yang sedang bermimpi itu. tapi, desa tampak begitu sepi. Seolah tak berpenghuni selama bertahun-tahun lamanya.
            “Hei, penyihir jahat!!!”, panggil seorang gadis. Kak Lili menoleh ke bawah. Itu Maggie!!
            “Kau pasti mencari semua penduduk, kan?! Sebetulnya, mereka sudah kami ungsikan ke tempat yang aman!! Ini berkat ide puteri cerdas kami, yaitu Puteri Braind!!”, ejeknya.
Kak Lili kaget. Braind bukan anak yang mudah mengatur rencana seperti ini. “Mungkin karena dia sudah besar, dia sudah bisa menyusun rencana seperti ini…”, pikir Kak Lili.
            “Huh, jangan sok ya, gadis kecil!! Rasakan ini!! Sihir Pembunuh: Tali penghisap roh!!”, seru Kak Lili marah. Tali hitam sihir itu langsung mengenai tubuh kurus Maggie. “Ya, inilah balasan orang yang berani-beraninya mengejekku!”.
            “Sihir perusak: Panah Es!!”, seru Braind dari kejauhan. Panah-panah es itu langsung memotong tali sihir Kak Lili, juga menyerangnya.
            “Kak, kali ini, kau akan kukembalikan seperti dulu!!”, seru Braind. Maggie hanya bisa tercengang.
            “K-kakak?! Siapa dia, nona Braind?!”, Tanya Maggie kebingungan saat mendengar Braind memanggil Kak Lili dengan sebutan “Kak”.
            “Oh, dia Kak Lili yang kabur 5 tahun yang lalu”, jawab Braind tenang.
            “Apa?! Gak mirip!!”, seru Maggie tak percaya. Tatapan Maggie seperti orang yang jijik melihat suatu hal.
            “Enak aja nggak mirip, waktu itu aku kan masih umur 13 tahun, sekarang aku sudah berumur 18 tahun!!”, bantah Kak Lili marah.
            “Hei, Braind. Kamu juga sebaiknya sadar. Aku tidak bisa dikembalikan seperti dulu”, ujar Kak Lili angkuh.
            “Tentu saja!! Karena kakak adalah  ‘Sang Heart’!”, ujar Braind bersemangat.
            “Heart???”, Tanya Maggie dan Kak Lili kebingungan. Braind hanya tersenyum percaya diri. Ia segera menoleh ke belakang. Bright, saudara kembar Braind yang bijaksana, muncul dari hutan tanpa hawa kehadiran (gara-gara itu, Bright sempat disebut hantu oleh Braind).
            “Lebih tepatnya… kartu Heart yang layu karena basah oleh air. Kakak adalah sang kartu yang putus asa karena merasa tersiksa dan hanya bisa menangis, yang membuatnya semakin layu dan rapuh. Kakak merasa tersiksa, selama ini kakak diejek oleh warga desa jika kakak melakukan suatu kesalahan, dan itu menjadi penyebab kakak harus terus dimarahi oleh ayahanda. Tapi, hari itu, kakak melakukan suatu kesalahan yang sangat fatal, karena kecelakaan 5 tahun yang lalu, ada beberapa warga yang hilang. Ayahanda akhirnya marah lagi, namun lebih kasar, membuat pertahanan kakak yang memang sudah rapuh menjadi hancur. Karena itu, kakak akhirnya kabur dan dipengaruhi oleh penyihir hitam yang sebelumnya”, jelas Bright panjang lebar.
            “Kakak… tersiksa, kan? Kakak kesepian, kan? Kakak pasti ingin cerita hal ini pada seseorang, tapi kakak takut kakak akan lebih merasa sakit lagi, kan? Jawablah kak!!”, desak Braind.
            “Iya, non Lili!! Daripada anda bersedih sendirian!! Lebih baik anda ceritakan pada kami!! Akan kami dengarkan!!”, tambah Maggie.
Kak Lili terdiam memandangi mereka dari celah rambutnya yang sangat panjang. Ia merasa bingung. Tapi, itu benar. Semua benar… hanya saja, tetap saja dirinya merasa sakit hati.
            “Ah, kalian sungguh berisik sekali!!”, seru Kak Lili marah. Kak Lili reflex menyerang mereka. Naga hitamnya menyemburkan api larvanya pada tiga gadis itu.
            “Kyaaa!!”, teriak Braind, Bright, dan Maggie. Kak Lili tersentak mendengar teriakan kedua adiknya. Ia melihat ke sekeliling. Tubuh tiga gadis kecil tampak terluka parah dengan darah di sekeliling mereka.
            “Braind, Bright, Maggie!!!”, seru Kak Lili cemas. Dihampirinya mereka bertiga. “Kalian tidak apa-apa?!”, tanyanya.
            “Kami tidak apa-apa kok, kak… ukh!!”, jawab Bright sambil menahan sakit. Tangannya terluka parah. Sementara itu, Braind hanya bisa tersenyum masam.
            “Iya, non!! Harusnya kami yang nanya, Nona Lili baik-baik saja, kan?”, Tanya Maggie dengan tulusnya.
            Kak Lili kaget sendiri. mereka berusaha tampil tegar di hadapannya, “padahal mereka masih anak-anak. Mereka tulus mengkhawatirkanku. Padahal aku sudah menyakiti mereka. Apa aku harus menjawabnya? Tapi, apa yang harus aku jawab?”.
            Air mata Kak Lili membasahi pipi merahnya. “Aku… benar-benar tidak mau melihat mereka bertiga terluka. Karena mereka adalah orang-orang pertama yang mau mengerti tentangku, terutama Braind”.
            “Aku… nggak apa-apa…”, jawab Kak Lili sambil menangis. Ia juga berusaha tegar menahan tangis.
Mereka bertiga hanya tersenyum ramah. Bright mendekat dan memberikan sapu tangan orange favoritnya. Braind mengembalikan naga hitam milik Kak Lili ke alamnya (entah bagaimana caranya itu bisa dikembalikan oleh Braind). Sementara Maggie, ia merapikan rambut panjang Kak Lili yang berantakan.
            Braind berjalan mendekati kakaknya.. Lalu, meletakkan sebuah benda yang mengganjal di rambut Kak Lili yang telah rapi.
            “A-apa ini?”, Tanya Kak Lili heran. Benda itu terasa sangat mengganjal di kepalanya.
            “Ini hadiah ulang tahun kakak!! Jangan karena lama tak pakai mahkota, kakak lupa gimana memakainya, ya!!”, jawab Braind sambil menjulurkan lidahnya.
            Kak Lili teringat bahwa ini hari ulang tahunnya. Tapi, ia bingung dengan mahkota kecil yang kini berada tepat di atas kepalanya.
            “Kenapa kamu memberiku mahkota?”, Tanya Kak Lili heran. Ia sadar, kini ia hanyalah seorang penyihir. Bukan lagi seorang puteri raja yang seenaknya memerintah.
            “Kok masih tanya? Kami semua masih menganggap kakak sebagai puteri!! Ayo, kita kembali ke istana!!”, ajak Bright sambil mengulurkan tangannya yang tulus. Kak Lili membalas uluran tangan itu. ia tersenyum amat sangat ramah. Senyuman yang sangat dirindukan oleh semua orang.
            “Ya, ayo kita segera pergi!!”, balas Braind dan Maggie. Mereka berempat akhirnya menunggangi kuda (kebetulan Bright membawa 2 kuda yang ia simpan di balik rumah-rumah agar tidak terluka).
            Sebentar lagi, akhirnya aku bisa menemui ayahanda dan ibunda lagi…”, gumam Kak Lili senang.
            Mereka menyusuri hutan dengan kuda kerajaan. Braind naik kuda bersama Maggie, sedangkan Bright bersama Kak Lili. Pada perjalanan ini, mereka berempat mengadakan balapan. Dan yang terakhir sampai kerajaan harus memberikan snacknya untuk dimakan pemenang selama 1 minggu.
            “Ayo, pacu kudanya lebih kencang Maggie!!!”, perintah Braind. Maggie langsung memacu kudanya dengan kecepatan tinggi.
            “Kami nggak akan kalah!!”, seru Bright. Ia langsung memacu kudanya dengan kecepatan yang sama. Sementara, kerajaan sudah di depan mata.
            “Itu kerajaannya sudah dekat, non!!”, seru Maggie.
            “Bagus!! Ayo cepatkan kecepatan kudanya!!”, balasku dengan tersenyum antusias.
            Mereka melewati bukit kecil di depan hutan istana.
            “Yey, aku menang! Bright, siap-siap nggak dapat snack selama seminggu!!”, ejek Braind.
            Para pengawal tampak memandangi mereka. Dilihatnya sosok gadis remaja yang anggun itu. dan tiga gadis di dekatnya. Para pengawal menghampiri mereka. Mengajak mereka masuk ke aula kerajaan. Ratu dan raja kaget melihat putri mereka telah kembali.
            “Li… Lili!! Kamu kembali, nak! Kamu dari mana saja? Ibunda sangat cemas padamu!”, seru ibunda. Dipeluknya Kak Lili dengan kasih sayang penuh.
            Kak Lili terkejut. Ia pikir orang tuanya juga tidak peduli padanya. Kak Lili pun menangis lagi. “Maaf ya, ibunda…”, hanya itu kata-kata Kak Lili. Semua yang ada di aula kerajaan tersenyum penuh haru.
             Selama seminggu dirayakan kembalinya Puteri Lili yang ramah. Maggie dan keluarganya juga kembali bekerja di Kerajaan Berlian kembali.
            1 tahun kemudian…
            Diumurnya yang sudah berusia 19 tahun itu, Kak Lili diangkat menjadi ratu. Sebagai puteri pertama, pastinya ia sangat adil dan bijaksana. Masyarakat sangat senang atas pengangkatan Puteri yang paling ramah ini.
            Pagi sebelum acara upacara penurunan kekuasaan, Kak Lili dirias oleh keluarganya sendiri. Kak Tania dan Ratu memilih baju, Maggie menyiapkan peralatan dandan, sedangkan Braind dan Bright menyiapkan sepatu yang akan terlihat serasi dengan baju Kak Lili.
            “Lili, pakai baju warna putih saja. Itu terlihat bagus”, saran ratu sambil memperlihatkan gaun cantik berwarna putih.
            “Ibunda, itu seperti gaun pengantin”, ujar Kak Lili malu.
            “Kalau begitu, tambah bunga mawar saja. Saya sudah memetiknya tadi pagi”, saran Maggie sambil membawa seikat bunga mawar berwarna merah.
            “ Wah, itu bagus sekali. Kita pasang saja bunga mawarnya sekarang!!”, ujar Kak Tania sambil menerima seikat bunga mawar tersebut. Mereka mulai memasang bunga mawar itu di gaun Puteri Lili.
            “Hebat, non!! Cocok sekali!!”, puji Maggie. Braind dan Bright yang tertarik pun menoleh.
            Kak Lili mengenakan sebuah gaun berwarna putih dengan hiasan bunga mawar. Ia memakai sebuah kalung dengan motif mawar yang indah sekali. Di rambutnya diberi jepit bunga mawar.
            “Wah, bunga mawar!! Kalau begitu, pakai ini saja!!”, saran ‘Si Kembar Pemberani’, Braind dan Braight, sambil mengambil sepasang sepatu berwarna putih yang berhiaskan mawar di tengahnya.
            Kak Lili pun memakainya. Ia terlihat penuh dengan bunga mawar merah.
            “Cantiknya…”, puji Braind kagum. Kak Lili benar-benar terlihat seperti puteri kerajaan sejati!! Rambutnya yang bergelombang, terurai dengan indahnya. Ditambah jepit mawarnya yang menahan poni panjangnya turun.
            “Ayo, kita ke aula kerajaan!!”, ajak Bright. Keluarga hangat itu segera keluar dari kamar Kak Lili dan turun ke aula kerajaan. Sesampainya di aula, seluruh rakyat telah berkumpul. Mereka semua terkagum-kagum melihat kecantikan dan keanggunan ratu mereka.
            “Baiklah, semuanya!! Inilah ratu baru kita, Puteri Lili!!”, seru Pangeran Aldo, kakak laki-laki Braind yang pertama, dengan semangat. Semua bersorak gembira. Kak Lili hanya tersipu malu. Mukanya yang berwarna putih, tanpa dandanan, tetap tampak cantik.
            Braind tampak tersenyum sangat ceria. Maggie menghampirinya. “Nggak sedih posisi anda digantikan?”, tanyanya mengejek.
            “Oh, nggak dong. Aku lebih senang Kak Lili yang menjadi ratu. Ia sangat bijaksana”, jawab Braind. “Daripada mengurusi kekuasaan kerajaan, kita main saja, yuk!!”, ajak Braind.
            Maggie dan Bright langsung mengangguk. Mereka bertiga segera berlari ke arah taman kerajaan. Bermain bersama, tertawa bersama di antara bunga-bunga mawar kerajaan yang baru mekar dengan indahnya.
            “Selamat tinggal diriku yang lama!! Selamat datang diriku yang baru!! Aku akan selalu berusaha menjadi seorang gadis yang lebih baik lagi, agar bisa membuat semua orang yang kusayangi tersenyum gembira!”, seru 3 gadis cilik itu. mereka tertawa lepas dan bergandengan tangan. Mawar-mawar itu mekar makin indah, seindah senyuman 3 gadis itu. 



DISUSUN OLEH:
Nama: Najwa Anisa Safitri
Kelas: VI B
Sekolah: SDN Wonokusumo V

Rabu, 08 Juli 2015

KuCing (AKU DAN KUCING)


Suatu pagi aku melihat seekor kucing hitam masuk ke teras rumahku. Aku pun mengabaikannya karena aku juga saat itu di suruh ke warung oleh Ibuku. Aku pun langsung pergi ke warung.
Sesudah pulang dari warung, aku masih mendapati kucing itu berada di teras rumahku.
“Hush, hush, keluar dong.. Aku mau nutup pintu nih..” Kataku mencoba mengusirnya.
“Meong..” Kucing itu mengeong sesekali padaku.
Aku pun melihat ke ember dekat kucing itu. Mungkin dia haus.
“Haus?” tanyaku.
“Meong..” sambil melihat kearahku dengan tatapan tajamnya.
Aku pun langsung berlari masuk ke dalam rumah dan mengambil gelas kemudian aku isi gelas itu dengan air. Kemudian aku pun langsung keluar dan mengisi ember itu dengan air yang ada di gelas. Kucing itu pun langsung berjalan kearah ku dan melihat isi ember yang hanya ada air sedikit. Mungkin air segitu tidak cukup.
Aku pun langsung masuk lagi ke rumah dan mengambil air di gelas lagi. Kali ini aku isi sampai penuh.
Kemudian, aku pun langsung keluar lagi. Aku mendapati kucing itu ada diatas kursi sedang melihatku. Aku pun langsung menambahkan air lagi ke ember itu. Kucing itu pun kembali berjalan lagi kearahku dan melihat isi ember itu. Tapi ia langsung mundur dan tidak meminumnya. Aku pun langsung berfikir, mungkin dia tidak mau tempat yang kotor.
Aku pun langsung mengambil air lagi di gelas dan menuangkannya ke gayung yang ada di ember itu. Tapi kucing itu tetap saja tidak mau minum. Mungkin kucing itu lapar.
Saat aku mau berjalan masuk ke dalam rumah, kucing itu pun mengikutiku, tapi sebelum kucing itu mendekati pintu masuk, aku langsung menutup pintunya karena kalau kucing itu masuk Ibuku akan marah. Aku pun langsung mengambil kue.
Aku pun kembali lagi, kucing itu pun masih menunggu ku diatas bangku. Dengan perasaan takut, aku pun mencoba untuk mendekatinya dan memberinya makanan. Kucing itu pun langsung mendekati makanan dan memakannya, tapi makanannya jatuh dan kucing itu pun hanya diam saja melihat kebawah tepat makanan itu jatuh.
Aku pun ingin mengambilnya tapi aku takut di cakar kucing itu. Kucing itu pun langsung berjalan dan mengikutiku.
“Eh, jangan ngikuti aku dong.. Ayo keluar..” Aku pun langsung langsung lari keluar gerbang, kucing itu pun langsung mengejarku.
Aku terdiam di depan gerbang, kucing itu pun juga ikut diam. Aku pun mengambil ancang-ancang untuk lari masuk ke dalam tapi kucing itu juga mengambil ancang-ancang. A to the pes deh aku. Apes!
Aku pun langsung berlari masuk ke dalam dan menutup gerbang. Kucing itu hanya bisa diam melihatku dari luar. Sebenarnya aku merasa bersalah. Tapi jika ini ketahuan orangtua ku, aku bisa terkena masalah.
Aku pun langsung mengambil makanan dan memberanikan diri membuka gerbang untuk memberinya makanan. Aku pun langsung mendekati kucing itu, menaruh makanan dan berlari ke dalam dan menutup gerbang. Kemudian aku melihat dari dalam gerbang. Kucing itu memakan kuenya!
“Alhamdulillah, akhirnya dia makan juga.” Kataku lega.
Aku pun langsung masuk ke rumah dengan perasaan senang dan bebas.

SELESAI

Nama : Latifatun Rohimah
Nama panggilan : Lala
Nama fb : Latifatun R
Umur : 14 tahun
Instagram : Lalalatifatun

Kak Latifatun ini juara ketiga lomba Event GOA (Group of Author) di facebook. Selamat ya kak!
BYE... AULIA...!!!

"Hahaha!"
Aku asyik bercanda dengan sahabatku, Aulia. Saat aku sedang asyik bermain, tiba-tiba Mama memanggilku. "Nawa...!" panggil Mama.
"Dah ya Au...besok lagi kita main nya. Bye..." seru ku sambil melambaikan tangan. "Bye.." ucap Aulia.
***
Aku pun menghampiri Mama yang sedang mengetik.
"Ada apa Ma?" tanyaku, "Tolong belikan Mama tinta printer di toko Kak Fessa ya" ucap Mama sambil menyodorkan uang 40.000 rupiah.
"Okey"
Aku pun pergi ke toko Kak Fessa, yang menjual ATK (Alat Tulis Kantor) dan lainnya.
***
"Kak Fessa..." panggilku,
"Iya, sebentar!" seru Kak Fessa.
Aku pun menunggu Kak Fessa sambil melihat-lihat.
Tak lama, Kak Fessa datang, "Ada apa Naw?",tanya nya.
"Kak, beli tinta untuk printer ada?" tanyaku, "Mm..ada...tunggu sebentar ya, Kakak cari dulu di dalam", ucap Kak Fessa, aku hanya mengangguk.
Tak lama, datanglah Kak Fessa dengan membawa tinta printer. "Nih Naw. Stock nya tinggal ini saja", Kak Fessa menyodorkan tinta printer kepada ku. "Berapa harganya Kak?" , tanyaku,
"35.000 rupiah." jawab Kak Fessa. Aku pun memberikan uang sebesar 40.000 rupiah kepada Kak Fessa. "Nih kembaliannya...", Kak Fessa memberikan uang kembalian kepada ku sebesar 5.000 rupiah dong!
"Tidak di plastik Naw?" tanya Kak Fessa, "Alah...Tak usah lah Kak" jawab ku sambil lari. Hehehe...
***
Sesampainya di rumah,,,
"Nih Ma, tintanya. O iya, ini uang kembaliannya." ucapku sambil menyodorkan uang 5000 rupiah ke Mama. "Terimakasih Nawa... Sekarang kamu mandi gih... Sudah sore ini" ucap Mama lembut.
"Oke..."
***
Aku pun mengambil handukku di kamar. Lalu segera mandi.
"Byur...byur...Ah...Segarnya..."
Aku mandi dulu ya! Agar tidak bau..!
Hehehe...
***
Setelah mandi, aku segera berpakaian. Aku memakai baju tidur bergambar permen loli , berwarna hijau.
Sehabis mandi, aku menyisir rambutku. Karena masih basah, rambutku tidak ku ikat.
Aku pun langsung menonton kartun kesukaan ku di sebuah acara Televisi.
Saat aku sedang asyik menontok TV, Papa memanggilku.
"Nawa...Sini Nak!" ,
" Iya Pa...", aku segera menghampiri Papa yang suaranya berada di ruang tamu. Ku lihat, Mama juga ada disitu. Sepertinya, Papa ingin merundingkan sesuatu.
"Mm..ada apa Pa?" tanyaku.
"Sebenarnya...Mmmm...Tapi kamu harus kuat menerimanya ya Naw...." ucap Mama lembut. "Iya...Memang sebenarnya ada apa?" tanyaku penasaran.
"Begini... Papa akan bekerja di Turki..." , saat Papa memulai pembicaraannya, aku memotong pembicaraan , "Apa? Papa ingin meninggalkan Nawa dan Mama sendiri? Nawa tidak setuju Pa..!" ,
"Sstt... Nawa! Dengar dulu! Papa ingin ngomong tuh!" ucap Mama sedikit marah. Aku pun terdiam.
"Karna Papa ingin bekerja di Turki,, jadi Papa ingin... Kita semua pindah ke Turki..." ucap Papa. Aku pun terkejut. Aku mulai meneteskan air mata. "Huhuhu... Tidak bisa Pa.. Apakah Papa tidak ada pilihan lain?" tanyaku sambil terisak. "No...hanya itu pilihan kita. Apa kamu mau, kalau Papa hanya pulang setahun sekali?" tanya Mama. Aku pun hanya menggelengkan kepala. "Iya Nak...hanya itu pilihan kita. Itu adalah pilihan terbaik. Pekerjaan itu susah didapat. Bahkan ada yang menjadi pengangguran. Apa Nawa mau, kalau Papa menjadi pengangguran dan tidak bisa menafkahi keluarga?" tanya Papa. Aku hanya menggeleng sedih. 2 hari lagi kita akan pindah. Jadi, tolong kemasi barang-barang mu ya Nak..." ucap Mama. Aku hanya mengangguk. Aku segera pergi ke kamar, membereskan baju-baju ku, buku-buku ku, pokoknya peralatan aku deh!
Aku juga membuat gelang manik-manik untuk kenang-kenangan Aulia, sahabat ku yang paling baik. Gelang manik-manik ini ku buat dua. Satu untukku, satunya lagi untuk Aulia. Gelang ini sangat spesial.
***
"Ukh...akhirnya, selesai juga beres-beres nya. Dan buat gelang manik-manik nya. Besok hari Senin, kata Mama, besok aku tidak usah sekolah. Aku harus membereskan barang-barang di rumahku.
Ku lihat jam, "Hah!!Sudah pukul 21.50??"
Sebaiknya, aku segera tidur!
*****
Kriing...kring....
Alarm ku berbunyi keras. Tepat pukul 05.00 pagi.
"Hoam...aku masih mengantuk.."
Yah... gimana tidak ngantuk, aku saja tidurnya pukul 21.50!!
Aku pun menjutkan tidurku kembali. Yah hanya se-jam.
Tepat pukul 06.00 pagi aku bangun. Segera aku mandi, dan sarapan.
**
"Loh, Nawa, kamu baru bangun ya?" tebak Mama. "Iya nih Ma..." ucapku masih lemas.
"Memangnya semalam kamu tidur pukul berapa?" tanya Papa, "Pukul 21.30 malam." jawabku.
Mama hanya menggelengkan kepalanya, sambil menyiapkan sarapan ku.
Aku pun makan dengan lahap, lalu membantu Mama mengemas barang-barang untuk kepindahan. Sedangkan Papa mengatur surat surat sertifikat rumah dan lainnya.
"Ukh.. akhirnya selesai juga beres-beres nya..." ucap ku lega , tapi dengan perasaan sedih.
Sekarang, tepat pukul 13.30, Aulia pasti sudah pulang sekolah.
Aku ingin memberikan gelang manik-manik nya besok saja, pikirku.
Tepat pukul 16.30 sore, aku sudah mandi. Aku pamit dengan Mama, kalau aku ingin ke rumah Aulia. Mama mengizinkannya.
***
"Aulia..."
Aku pun memanggil Aulia dengan mata berkaca-kaca. Aku ingin, hari ini aku bisa tertawa bahagia bersama Aulia.
Aulia pun datang.
"Eh Nawa...Masuk Naw...Aku lagi buat kue nih..Spesial buatmu..." ucap Aulia sambil menyodorkan kue coklat. Aku pun menyantap nya bersama Aulia.
Setelah makan kue, aku mulai bercerita kepada Aulia, kalau aku besok segera pindah.
"Aulia...Aku ingin bercerita kepada mu, kalau....be...besok...aku...akan segera...meninggalkanmu dan juga tanah air kita.",ucap ku sambil meneteskan air mata.
Aulia yang terkejut mendengarnya, langsung menangis, "Hah...jadi besok ka...kamu Naw...akan..." ucapan Aulia terputus, "Pindah" lanjutku.
"Huhuhu...tapi, kamu ingin pindah kemana Naw?" tanya Aulia sambil menangis,,
"Ke Turki Au..Papa ku bekerja di sana" jawab ku sambil terisak.
"Sudah ya Au...Aku kesini hanya ingin menyampaikan kabar ini..." ucapku langsung pergi. Ku lihat mata Aulia yang terlihat sangat sedih.
***
Kring...kring...
Hari Selasa, hari kepindahanku.
Aku segera mandi dan sarapan.
Kata Papa, sebentar lagi kami akan berangkat.
Aku cepat-cepat sarapan, lalu minta izin kepada Papa untuk menemui Aulia sebentar.
Ku cepat berlari ke rumah Aulia.
Ku lihat, Aulia yang sudah berseragam. Aku pun mengucapkan kalimat terakhirku pada Aulia.
"Aulia, mungkin kita bisa bertemu lagi pada hari yang menyenangkan ya.
Aku juga ada gelang persahabatan.
Bye Aulia......!!" ucapku sambil berlari. Tidak lupa ku beri ia gelang persahabatan buatan ku.
"Bye Aulia....!!"
~~~~~TAMAT~~~~~

Nama lengkap : Fadiah Khairina Firamadania
Nama panggilan : Fira
Nama Fb : Fadiah Khairina Firamadania
Kelas : 5
Umur : 10 tahun

Fadiah ini pemenang juara 2 lomba Event GOA (Group of Author) di facebook. Selamat ya, Fadiah!
MY BELOVED: ZAHRA

Aku tersentak seketika. Lidahku seolah kelu untuk mengucapkan sesuatu. Hal ini begitu tiba-tiba. Bahkan aku sendiri pun tak dapat memperkirakannya. Seketika, gagang telepon itu terjatuh ke lantai. Aku tak memperdulikan sebuah suara teriakan bercampur kepanikan di seberang sana. Aku tak peduli lagi. Yang jelas, saat ini aku menyesal.
Aku menjambak rambutku frustasi, sambil terus menangis. Secepat inikah kamu pergi?
Sekujur tubuhku bergetar hebat. Airmata yang tak kuasa aku bendung, mulai membasahi pipiku.
Beberapa menit yang lalu, aku baru saja menerima berita, bahwa sahabat terbaikku yang sering aku kecewakan telah tiada. Dia telah berpulang untuk selamanya. Akibat kecelakaan maut yang telah merenggut nyawanya
Untuk pertama kalinya, aku merasakan kesedihan yang sangat mendalam di hidupku. Secepat ini 'kah?
..OooO..
Hari ini adalah hari dimana sahabatku yang bernama Zahra di makamkan.
Banyak yang menangisi kepergian sahabat terbaik yang pernah ada di dalam hidupku. Aku terdiam membisu, layaknya patung hidup. Air mataku mungkin sudah kering akibat terus-menerus menangis kemarin.
Aku masih setia duduk disamping batu nisan yang bertuliskan nama Zahra. Sudah hampir satu jam aku disini tanpa melakukan hal yang berarti. Aku tak peduli hawa pemakaman yang terasa mengerikan. Yang aku pedulikan sekarang, hanyalah rasa bersalahku kepada Zahra.
"Zahra, maafin Dhea. Dhea udah punya banyak salah sama Zahra. Terakhir kita bertemu, Dhea malah marahin Zahra. Dhea nggak tau kalau hal ini bakalan terjadi menimpa Zahra. Dhea nggak tau harus gimana lagi. Zahra yang selalu maafin Dhea udah nggak ada di dunia ini lagi. Zahra adalah sahabat terbaik yang pernah Dhea punya. Sebenarnya, Dhea masih nggak terima Zahra pergi. Maafin Dhea, hiks." Akhirnya, tangisku pun pecah. Mewarnai suasana pemakaman yang sangat sepi, karena hanya aku satu-satunya yang bertahan di tempat ini.
"Maafin kalau Dhea punya banyak salah ke Zahra. Selalu marah-marah ke Zahra, menjahili Zahra, ngerepotin Zahra, dan ngecewain Zahra. Dhea bener-bener minta maaf. Semoga Zahra bisa hidup dengan tenang di alam sana. Jangan pernah lupain Dhea, ya?" Aku mengelus batu nisan yang dingin itu. Air mata tak henti-hentinya menetes dari pelupuk mata ku.
Sungguh, aku sangat merasa bersalah ke Zahra. Dia tak pernah sekalipun berkata hal yang menyakitkan kepadaku disaat aku memarahinya. Dia hanya akan tersenyum ketika aku menjahilinya. Ketika aku berbuat salah, dan megecewakannya, dia lah yang meminta maaf. Kini, aku sangat merindukan sosok seorang Zahra di sisiku. Merindukan kebaikan yang ada pada diri Zahra.
"Sekali lagi, maaf dan terima kasih untuk semuanya, Zahra."
Aku mulai beranjak dari tempatku. Hari sudah semakin sore. Walau aku sedikit enggan beranjak dari sana, aku harus pulang. Ayah dan Bunda pasti menghawatirkan ku.
..OooO..
Sudah seminggu berlalu sejak kepergian Zahra. Aku jadi sering melamun. Ayah dan Bunda juga menjadi semakin khawatir terhadapku. Namun, aku berusaha tetap kuat dengan selalu mengatakan 'Aku baik-baik saja.' walaupun aku sendiri tak yakin dengan hal itu.
Selama seminggu ini pula, aku semakin merindukan Zahra. Waktu yang biasanya kuhabiskan berdua bersamanya kini tak mungkin kembali. Aku sempat terpuruk dengan keadaan seperti ini. Tapi, aku selalu mendengar suara bisikan yang entah berasal dari mana, membisikkan kepada diriku bahwa Zahra tidak akan senang bila aku terus bersedih.
Aku menopang daguku menggunakan tangan kiriku dengan lesu. Baru aku sadari, pengaruh Zahra dalam hidupku sangatlah besar. Ingatan-ingatan tentang Zahra kembali menggerayangi pikiranku.
Tok. Tok. Tok.
Indra pendengaranku menangkap suara ketukan pintu dari luar kamarku. "Masuk."
Cklek.
Pintu itu terbuka, menampilkan sosok Bunda yang tengah membawa sebuah amplop berwarna merah muda di tangannya. "Dhea, ada surat, titipan Bibi Rosela untukmu. Katanya, ini dari Zahra sebelum dia meninggal." ujar Bunda. Mataku terbelalak kaget. Segeralah aku menghampiri Bunda.
"Kata Bibi Rosela, Zahra pernah berpesan agar kamu membacanya di tempat biasa kalian bertemu." Jelas Bunda. Aku mengangguk, tanda mengerti. Segera ku ambil amplop berisikan surat dari Zahra. "Terima kasih ya, Bun. Aku pergi dulu." kataku. Lalu, aku bergegas pergi ke tempat biasanya kami bertemu.
..OooO..
Aku duduk terdiam seraya memandang danau di hadapan ku. Disinilah tempat pertama kali kami bertemu, dan tempat dimana kami sering bertemu.
Segera ku buka amplop tersebut, lalu mengeluarkan surat di dalamnya.
***
Hai, Dhea!
Kamu sehat 'kan?
Rasanya agak aneh lho, membuat surat seperti ini. Hm, aku bingung bagaimana berbicara denganmu saat ini. Ah, lebih tepatnya malu.. mungkin?
Maaf ya, kalau aku pernah berbuat salah ke kamu. Maafin aku juga kalau aku sering ngebuat kamu kecewa. Aku nggak tau harus berbuat apa biar kita bisa baikan. Aku harap, persahabatan kita akan terjalin selamanya!
Kalau misalnya aku terlalu pendiam buatmu, aku minta maaf ya! Aku bukan bermaksud untuk bersikap nggak peduli ke kamu. Aku hanya bingung bagaimana aku menjabarkan ekspresiku. Hehe.
Apa sekarang kamu bisa bahagia, Dhea? Kalau kamu belum bisa, Berbahagialah sekarang juga! Karena, kalau kamu sedih aku ikut sedih. Jadi, kamu harus bahagia. Biar aku juga bahagia. Kita sahabat 'kan?
Nah, aku minta maaf kalau punya salah ke kamu, dan juga.. Terima kasih, Dhea!
Salam, Zahra.
***
Tubuhku lemas, seolah tulang-tulangku sudah tak mampu menopang tubuhku ini. Tanganku tak berhenti bergetar. Isakan kembali terdengar lolos begitu saja dari mulutku. Aku menatap danau dengan tatapan kosong.
Tes.
Airmata itu kembali menetes. Sekelebat memori yang pernah kami alami berdua mulai berputar di pikiranku layaknya kaset rusak.
Aku berjalan kearah danau. Karena tempat ini sepi dan tak banyak di ketahui oleh orang lain, aku bebas berteriak sekeras mungkin sepuasku.
Aku mengusap kasar pipiku. Aku tak boleh sedih. Karena, kalau aku sedih, berarti Zahra juga akan sedih. Saat ini, aku harus mengikhlaskan kepergiannya.
Mulai saat ini, aku bertekad untuk tidak menyia-nyiakan orang di sekitarku. Sebelum aku menyesalinya di kemudian hari. Cukuplah kematian Zahra yang membuatku belajar bahwa kasih sayang seorang sahabat tak dapat dibeli dengan apapun.
.
.
.
..Oo.. E N D.. oO...

Nama Lengkap : Fajarasih Luthfia Martha
Panggilan : Luthfi
Facebook : Fajarasih Luthfia Martha
Kelas : VII SMP
Umur : 12th (menuju 13th)
Twitter : @Luthfia_Martha
Instagram : fajarasihlm

Kak Fajarasih ini pemenang juara satu Event GOA (Group of Authors) di Facebook. Selamat, ya kak!

Yuk Baca!

Yuk Baca!
Aktivitas di pos baca girli